Guruku.. Tidakbisakah Kita Berdamai Saja?

Sepertinya aku terlambat menyadari bahwa secara psikis aku masih terjebak di ingatan masa lalu. Trauma yang sering hadir sebagai bunga tidur hingga membuat pacu jantung semakin cepat. Cemas karena tidak bisa memahami banyak hal. Takut karena tidak bisa menghafal seabrek hafalan.

Aku sering bermimpi menjadi murid di sekolah menengah dengan seragam khas anak Aliyah. Dalam mimpi itu aku menjadi sangat ketakutan. Guru itu mendekat, menyodorkan soal-soal berbahasa arab untuk aku kerjakan. Tentu saja aku tidak bisa. Karena aku termasuk jajaran anak bodoh untuk pelajaran semacam itu.

Di lain waktu aku kembali bermimpi di mata pelajaran dan guru yang sama. Lagi lagi dia menunjukku ke depan kelas. Disindir dengan halus tapi tajam menusuk. Dalam mimpi itu aku hanya mengumpat dalam diam. Harusnya aku yang berkuasa mengendalikan bunga tidurku. Mimpi itu milikku. Tapi nyatanya sama saja, aku kalah. Ini bukan sekali dua kali terjadi. Dan mungkin saja akan terus berlanjut hingga aku menua nanti.

Sejarah:

Seperti biasa ketika mendekati jam jam pelajaran Nahwu aku selalu diliputi perasaan cemas tak berkesudahan. Diantara teman-teman sekelas memang akulah yang terkenal suka membuat gaduh. Tapi, untuk pelajaran satu ini aku bersumpah sudah berusaha sekuat tenaga menjadi anak yang baik. Anehnya, sekeras apapun aku berusaha menghafal dan memahami materinya, tak satupun yang bisa aku cerna. Entah..

Usahaku menjadi anak baik nampaknya sia-sia. Berkali-kali pindah tempat duduk, berkali-kali itu pula aku ditunjuk. Mungkin guru itu sudah hafal wajahku, tapi tidak namaku. Guru berbasis agamaku dahulu memang seperti itu, tidak banyak menghafal nama-nama muridnya. Walaupun begitu aku selalu sial. Selalu terpilih menjadi pembaca dan penerjemah rangkaian huruf-huruf hija’iyah tanpa kharakat itu.

Aku tak pernah menyangka bahwa ingatan-ingatan semacam itu terus saja menggangguku, bahkan ketika aku sudah beranjak dewasa. Tokoh-tokoh itu seringkali hadir dan menjelma menjadi mimpi buruk.

“Benar adanya, masa masa pertumbuhan haruslah diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Jika tidak, mereka akan menyisakan trauma yang entah sampai kapan berakhirnya.”

Guruku.. Aku mohon berhentilah menyuruhku membaca huruf-huruf arab tak berkharakat itu. Guruku.. Aku mohon berhentilah menyuruhku melengkapi i’rab yang sampai sekarang masih kuhafal tanpa aku pahami penggunaannya. Guruku.. Tidakbisakah kita berdamai saja?

Saudara Tak Sedarah

“Ketika lelah itu sudah mencapai puncaknya, aku hanya ingin menikah.”

Ini kalimat paling konyol yang sering kali menjadi bahan becandaan kita bertiga. Padahal kenyataannya setelah menikah pastilah ada ujian baru yang bisa jadi lebih banyak dan lebih berat, yang sama sekali belum kita tahu.

“Tapi kan setidaknya satu tahap sudah tercapai,”  Salah satu berkilah mencari pembenaran kalimat sebelumnya.

“Sabarlah sabar, tak usahlah terburu-buru. Nikmati saja masa masa menyebalkan ini. Kelak di hari tua akan bisa menjadi bahan cerita bagi anak cucu. Cerita tentang ketidaksabaranmu menemukan jodoh itu.” Aku mencoba menenangkan.

“Eh, tapi serius kalian mau bercerita tentang hal memalukan ini?”

Kalian pun tertawa, dan aku lebih bahagia melihat kalian tertawa. Ahh kalian selalu bisa membuat suatu hal yang sensitif menjadi santai diberbincangkan.

***

Perkenalkan, kita squad tulang rusuk. Aku, Melly, dan Citra. Kita bertiga berteman sejak kita masih belum bisa melihat bagaimana itu laki-laki tampan. Kemudian menjadi sahabat ketika tujuan pendidikan kita sama di jenjang perkuliahan. Mereka lebih dari sekedar sahabat. Tahu segalanya, tahu baik buruknya. Bahkan mereka mungkin lebih paham aku pribadi dibanding saudara sedarahku sendiri, kecuali Mbak Yus sih. Hihii tapi ssstt say no body yaa, ini rahasia kita. 😀

24 jam dikurang 8, kita betah berlama-lama ngobrol tanpa menghibah sana sini. Kita punya dunia sendiri, dunia yang begitu nyaman untuk ditinggali. Sayangnya kita tak bisa berlama-lama berada di sana. Kesenangan ada batasnya.  Sudah saatnya kita bertanggungjawab atas diri masing-masing. Selamat berjuang di dunia pekerjaan yang begitu membingungkan.

 “Jangan mengataiku lebay, karena mungkin kalian tak seberuntung aku.”

Benar, aku beruntung memiliki kalian. Saudara tak sedarah. Aku sayang kalian dua tulang rusuk. Semoga cintaku tak bertepuk sebelah tangan (lagi). 😀

Akulah Manusia Paling Benar!

mirror-wallpaper1Suatu ketika kau harus memberi jeda pada hiruk pikuk dunia. Sepertinya kau terlalu serakah menginginkan apa apa yang di depan mata. Kau terlalu angkuh. Menganggap semua orang tidak lebih baik darimu. Sadarlah daya jangkaumu tak luas. Kemampuanmu terbatas. Mensyukuri yang sudah ada lebih baik, daripada terus mendongak ke atas mengharap takdirmu disamakan dengan takdir mereka yang kamu sangka lebih baik.

“Karena yang telihat bahagia tak selamanya lebih baik.”

Kamu merasa dunia tidak bersahabat? Merasa tidak pernah didengar? Bahkan hal hal baik sekalipun? Mari lihat ke dalam diri sendiri. Sudahkah kamu benar-benar bersikap baik kepada mereka? Tanpa topeng dan tanpa menjelekkan sana-sini? Pernahkah kamu mendengar mereka? Jujurlah pada diri sendiri. Pernahkah?

Buang jauh jauh pikiran “Saya yang paling benar, mereka yang salah. Sayalah yang menjadi korban. Sayalah yang paling menderita,”. Mungkin sebab itulah kamu tidak didengarkan. Karena pendengar yang baik sekalipun tak akan tahan mendengarmu, hey kau manusia yang selalu merasa benar dan pandai mengeluh.

“Jangan bermimpi untuk didengar, jika mendengar saja kamu tidak mampu.”

Kenapa? Masih berkilah? Ayolah berhenti menyalahkan orang lain, berhenti menyuruh orang lain mengintrospeksi diri. Karena ketika kamu bersikeras menyuruh orang mengoreksi diri, justru sebenarnya kamulah yang harus lebih dulu meraba diri.

Sudahkah saya bersikap baik? Apa yang salah? Apa?

Semoga dengan melihat diri lebih dalam kamu akhirnya paham, bahwa sebenarnya kamu hanya butuh pemahaman. Pemahaman dari dirimun sendiri, bahwa lubuk hatimu juga butuh hak didengar, bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh dirimu sendiri.

Sabarlah, ini hanya fase hidup yang memang sedikit rumit. Kamu hanya perlu jeda untuk memutar ulang beberapa memori sebagai bahan evaluasi diri. Pelan-pelan carilah jalan, jika tidak kamu akan kembali menemukan alasan untuk menyalahkan.

Dari Rizka kepada Iin..

Pak Bapak.. Tidakkah Kau Ingin Mendapat Rezeki?

pedagang-bakso
Sudah lewat pukul 22:00, mata sudah meredup tapi perut tak henti menuntut. Tak ada makanan tersisa di rumah. Hanya ada sebungkus mie instant dengan tabung gas yang kosong.
Kompleks ini sepi, jarang sekali terdengar panggilan gerobak bapak-bapak tukang makan yang menjajakan dagangannya. Ada sesekali, tapi nyatanya suara-suara itu lebih memilih menjauh.
Berkali-kali kubuka kulkas, berharap ada yang luput dari pengamatan. Ternyata sama, tetap tak ada makanan. Lapar eh, benar benar lapar..
“Tek tek tek..” Tiba-tiba suara itu menjadi satu-satunya suara yang aku rindu malam itu. Lewatlah Pak, aku ingin berbagi rezeki denganmu. Lewatlah Pak, jual makanan apapun akan aku beli. Lima, sepuluh, tiga puluh menit berlalu. Panggilan tak jua berseru. Baiklah aku yang menjemputmu..
Kuputuskan mencari ke depan gang. Kutoleh sekitar. Sama sepinya. Aku mengambil jalur kiri, hey ini sudah sampai jalan besar, mana mungkin ada jual makanan. Tiba-tiba dari jauh samar terdengar “Ting ting ting..” Bunyi nyaring hasil benturan sendok dengan piring kaca atau sejenisnya, mungkin.
“Yah.. Akhirnya aku menemukanmu!”
Aku berlari mendekat, sudah kugenggam erat lembaran hijau 20ribuan. Ini rezeki buatmu pak, sebagai gantinya seporsi makanan untuk perut rewelku. Aku tersenyum, senyum kemenangan.
Masih berjarak beberapa meter aku berteriak, sedikit mengecilkan suara.
“Pak beli..”
“Beli jamu apa neng?”
“Hahh? Jamu??”
Bisa kah kalian bayangkan bagaimana raut wajahku kala itu? Kecewa sudah tentu. Malu apalagi? Tapi pak jamu tidak salah, aku harus menepati janjiku untuk berbagi rezeki dengannya, dengan siapa saja yang membuat panggilan malam itu.
Tak apa kecewa, setidaknya bapak itu sudah berani memberiku harapan. Walaupun pada akhirnya jamu pegal linu yang aku pilih untuk ditukar dengan lembaran hijauku. 😀
Dan apa kabar perutku? Maukah kau bersua dengan jamu pegal linu?!
Semesta.. Berbaikhatilah… T.T

Jangan Mudah Membangun Kepercayaan Pada Wanita…

trust_shutterstock_102143134

Jangan mudah membangun kepercayaan pada dua golongan wanita, yaitu wanita yang gila harta dan wanita yang sedang jatuh cinta.

Gila Harta
Wanita gila harta atau yang biasa disebut wanita matrealistis cenderung mengukur segala sesuatu dengan materi, sehingga gaya hidup dan status sosial menjadi sesuatu yang wajib diutamakan. Setiap helaan nafas yang terpikir hanya harta, gaya, dan rupa. Gila harta secara otomatis memicu gila hormat, butuh pengakuan.
Hai kalian laki-laki di abad ini.. Lebih selektiflah dalam memilih istri. Karena kelak ia yang mampu menarik menjadi salah satu jembatanmu menuju surga, atau sebaliknya, ia juga mampu mendorongmu paksa ke dalam nyala api neraka.
Jangan mudah membangun kepercayaan pada golongan wanita gila harta, karena wanita jenis ini bisa dengan mudah membelokkan tujuan. Ada harta, ada cinta. Tak ada harta, maka enyahlah!
Wanita Jatuh Cinta
Wanita pada tahap ini begitu pandai menimbun mimpi, memupuk harap, dan suka sekali terjebak dalam asumsinya sendiri. Mereka bisa diliputi perasaan bahagia dan cemas dalam waktu bersamaan. Wanita yang sedang jatuh cinta seringkali tidak rasional dalam berpikir dan bersikap. Maka tak heran jika sebagian dari mereka bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan balasan dan perhatian.
Hai kalian laki-laki abad ini.. Berhati-hatilah..
Jangan mudah membangun kepercayaan pada golongan wanita jatuh cinta, karena mereka bisa menjadi investasi kekecewaan. Mengapa? Karena mereka bisa dengan mudah berjanji, tanpa berpikir bagaimana cara menepati. Ada cinta, ada cara. Tak ada cinta, maka harus ada cara..
Tidak semuanya seperti itu. Tapi alangkah baiknya jika radar kewaspadaan terpasang kuat-kuat.

text

Kepada Perempuan Keras Kepala

22_wonderful_autumn_wallpapers.

Hai perempuan..

Apa yang tengah kau pikirkan hingga 247 mu meresah tak berkesudahan? Lagi-lagi karena kepastian? Sudahlah biarkan saja. Biarkan dia menghadapi jalannya sendiri dengan hati-hati. Tak usahlah kau buru dia dengan segala bentuk tekanan. Jikalau memang mau, dia tak akan membiarkanmu berlama-lama menunggu. Cukuplah kamu memberi isyarat bersedia. Dan semuanya akan berjalan sesuai jalurnya.

Kenapa? Masih juga keras kepala? Atau kurang sepaham? Apa kau merasa usaha yang kau lakukan masih kurang? Hhh.. Lantas apa yang hendak kau lakukan? Memburu dia dengan sindirian-sindiran pernikahan? Mencecar dia dengan segudang pertanyaan? Atau mungkin menyeret dia ke pelaminan? Hey.. Itu sama sekali tidak elegan.

Yang kamu perlukan hanyalah perbaikan. Fokus pada apa yang masih belum kau capai. Sembari mendekat kepada Dia yang berkuasa penuh atas catatan lauhul mahfudz. Semoga dia yang sudah tertulis menjadi lebih berkualitas seiring perbaikan yang sudah kau usahakan. Semoga dia yang kau ingin bisa segera memantapkan hati memilihmu. Semoga dia yang kau sebut di lima waktu segera berbaikhati mendatangi walimu tanpa ba bi bu.

Jangan resah, dia pasti datang. Jika bukan dia yang kau mau, pastilah akan datang dia yang kau butuh. Tuhan tak pernah kehabisan cara untuk menyatukan yang berjodoh, dan menjauhkan yang bukan jodoh. Jadi, bisakah mulai sekarang kita belajar bersabar?

Jangan khawatir, jodoh tidak akan menghianati kesabaran.

Dari Rizka kepada Iin..

text